Email
Telepon
Pelajari lebih lanjut
MENUNTUT ILMU KE NEGERI CHINA
Home » Uncategorized  »  MENUNTUT ILMU KE NEGERI CHINA
MENUNTUT ILMU KE NEGERI CHINA

Oleh: Fahrul Abd. Muid

Penulis adalah Dosen IAIN Ternate dan Sekretaris ICMI Kota Ternate

                Ungkapan “Uthlubul ‘Ilma walaw bishshin” (tuntutlah ‘ilmu walaupun sampai ke negeri China). Kata-kata “Mutiara” ini mengandung aspek sosiologis-historis yang penting untuk di gali lebih mendalam dalam tulisan ini, mengapa “negeri China” terabadikan dalam kalimat pendek ini, yang bahkan ditengarai atau diduga perihal ungkapan ini sebagai sebuah Hadis. Mari kita lihat kawan! Instruksi (perintah) yang ditujukan kepada semua orang di dunia ini untuk belajar (menuntut ilmu) ke negeri Cina-yang notabne ba’idun (jauh) dari negeri kita dan jauh dari tanah Arab ketika itu-bukan tanpa alasan, melainkan memiliki alasan (argumentasi) yang sangat rasional atau masuk akal sehat kita, setidaknya dengan mempertimbangkan dua hal yang wajib diketahui oleh saya, anda dan kita semua. Pertama, Islam begitu menekankan kepada umat manusia di pentas dunia ini, wa bil khusus kepada umat Islam untuk mengeksplorasi ilmu pengetahuan, bahkan jika harus menempuh perjalanan yang jauh untuk meraihnya sampai ke Negeri China. Melalui dokumen sejarah, para sarjana Islam tempo dulu (klasik) tercatat (maktubun) telah melakukan berbagai riset penelitian ilmiah (rihlah ‘ilmiah) yang prosesnya panjang (thawilun) dari satu wilayah ke wilayah lain. Bepergian (lawatan) keilmuan ini merupakan tradisi pengembangan Peradaban ilmu pengetahuan yang dilakukan secara serius dan penuh kesungguhan yang luar biasa oleh ‘Ulama kita di masa silam.

            Jika, kita mengenal lebih dekat seorang perawi Hadis yang sangat viral sepanjang sejarah dunia, yang bernama Imam Bukhari (256 H), sang pendekar pengumpul Hadis Nabi Muhammad Saw. Ulama yang satu ini, bertempat kelahiran dari Negeri Bukhara, Negara Uzbekistan ini merupakan sosok yang begitu gigih dalam memburu sebuah Hadis Nabi Saw. Sekian banyak riwayat tentang Perkataan, Perbuatan, dan Pengakuan Nabi Muhammad Saw beliau pasti mencarinya ke berbagai penjuru Negeri yang walaupun sangat jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki oleh Imam Bukhari untuk mengumpulkannya sebagai Hadis-Hadis Nabi Muhammad Saw yang masih berserakan itu. Sejak usianya yang masih terbilang anak-anak (belia), Imam Bukhari telah tekun menyusuri sekian ratus kota-negeri, beliau keluar (khurujan)-masuk (dukhulan) perkampungan (desa) demi mengantongi yang namanya Sabda Nabi Muhammad Saw. 

            Imam Bukhari menempuh perjalanan spektakuler, beliau yang berdomisili di Kawasan Asia Tengah, melalang-buana menuju arah Barat ke daerah Mesir, Syam, Basrah, Kuffah, Baghdad, Al-Jazair, dan Haramayn (Mekkah dan Madinah). Pengembaraan yang sangat tangguh itu pun mengantarkan Imam Bukhari menjadi seorang ulama Hadis yang sangat “kaliber” yang kemudian kitab “magnum-opusnya” dijadikan sebagai rujukan utama dan pertama sebagai Kitab-Hadis dalam memperlajari Hadis-Hadis Nabi Muhammad Saw yang Shahih oleh umat Islam dan umat manusia hingga hari ini.

            Kedua, bahwa penunjukan China sebagai tanah (turab) tujuan utama menuntut ilmu (thalabul ‘ilmi) pengetahuan, menunjukkan kepada saya, anda dan kita semua hari ini, bahwa di sana-Negeri China terdapat semudera ilmu pengetahuan yang tak bertepi untuk kemudian harus diserap dan dipelajari agar membuat kita memiliki Peradaban dan Kebudayaan yang tinggi untuk kembali memajukan negeri kita sendiri, karena jika kita berhasil belajar pada Negeri China (orang-orang China), maka akan berdampak besar pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Negeri kita sendiri. Dalam kajian Ilmu Hadis di kalangan masyarakat Muslim dikenal dengan istilah Hadis-Masyhur ‘ala al-sinati al-naas (terviral di kalangan masyarakat umum) dari generasi menuju generasi lain perihal ungkapan ini yang hampir semua orang menghafalnya. Dan, Instruksi (perintah) untuk menuntut ilmu atau belajar (ta’lim) tentang ilmu pengetahuan ke Negeri China masuk pada klasifikasi Hadis tersebut.

            Informasi yang menjadi fakta ini menunjukkan, bahwa secara sosiologis dan kesejarahan (tarikhiyyah), hal-ihwal seputar Negeri China telah menjadi buah-bibir dalam masyarakat luas di masa lalu hingga masa kini. Tak lagi mengherankan oleh kebanyakan orang, karena Negeri China memang benar merupakan tanah (turab) dengan memiliki sejuta Peradaban (tsaqafah) dan Kebudayaan (hadharah) yang sangat subur. Negeri ini adalah salah satu Negeri yang memiliki sejarah Kebudayaan tertua di dunia. Maka, jauh sebelum Islam hadir yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw di periode Mekkah dan periode Madinah, karena awal Islam masuk ke Negeri China dibawa oleh seorang sahabat Nabi Saw, bernama Sa’ad bin Abi Waqqas yang diperintahkan langsung oleh Khalifah Utsman bin ‘Affan agar menyebarkan Islam di sana. Maka, kemudian Islam sangat berkembang pesat di Negeri China, sehingga China merupakan Rumah tertua bagi umat Islam hingga hari ini. Jumah penduduk yang menganut agama Islam di Negeri China berjumlah 31 juta orang, dan di Negeri China memiliki bangunan Masjid berjumlah 30 ribuan Masjid. Bangsa China (orang-orang China) sesungguhnya telah menguasai pelbagai khazanah ilmu pengetahuan, seperti Teknik pembuatan kertas, bubuk mesiu-bahan peledak, kompas, peta, gerobak, dan ilmu kethabiban (tukang-obat) orang yang sedang sakit. Teknik produksi kertas ini kemudian diimpor oleh orang-orang Islam pada abad ke-8, sebagaimana yang diceritakan oleh Ahmet T. Kuru. Bahwa, pencapaian dan kehebatan Peradaban bangsa China ternyata telah terdengar dimana-mana utamanya di Jazirah Arab pada tahun 500 sebelum masehi. Bahwa Peradaban dan Kebudayaan Negeri China yang ditopang oleh sederetan dinasti selama ribuan tahun yang masing-masing memiliki konstribusi pada kemajuan Peradaban dan Kebudayaan bangsa China. Terhitung mulai dari dinasti Sang (1766-1122 SM), dinasti Zou (1122-256 SM), dinasti Qin (221-206 SM), dinasti Han (206-221 M), dinasti Sui (581-618 M), dinasti Tang (618-906 M), dinasti Song (960-1268 M), dinasti Yuan (1279-1368 M), dinasti Ming (1368-1644 M), dinasti Qing (1644-1912 M), hingga zaman sekarang ini.

            Sejak Era dinasti Sang, bangsa China Kuno telah mengenal Peradaban Tulisan (kitabah). Dan, Peradaban Tulisan (kitabah) pada waktu itu lazimnya tertulis pada tulang-binatang, piring, ataupun kulit penyu. Peradaban Tulisan (kiatabah) tersebut masih berbentuk gambar (shawrun) atau lambang (pictograf). Dalam hal seni bangunan, bangsa China (orang-orang China) telah memiliki keahlian yang sangat tinggi peradabannya. Eksistensi Tembok Raksasa yang ada di Negeri China yang hari ini di daulat menjadi salah satu “keajaiban” dunia yang menarik dan menyedot perhatian warga dunia untuk berkunjung ke sana, sesungguhnya Tembok ini telah dibangun pada ratusan tahun oleh masa dinasti Qin (221-206 SM). Dalam Peradaban dan Kebudayaan yang lain, dan telah menjadi kesepahaman (al-fahmu) bersama ialah tentang kepiawaian orang-orang China dalam dunia perdagangan, yang hingga hari ini, citra bisnis dan perdagangan seolah telah menjadi DNA bagi bangsa China (orang-orang China). Di mana pun anda berada di dunia ini, pasti etnis China selalu memiliki andil dalam meramaikan dan/atau menguasai perekonomian pada sebuah wilayah yang anda ada di situ, apalagi di Indonesia ini dapat saya, anda dan kita semua pasti jumpai warga negara Indonesia yang berketurunan Tionghoa-China yang menguasai sektor bisnis dan perdagangan.

            Dan, faktanya di Indonesia jarang sekali kita jumpai ada orang-orang China yang tertarik bekerja manjadi Pegawai Negeri Sipil dan/atau Aparatur Sipil Negara (ASN). Akan tetapi, apabila orang China yang seratus persen adalah warga Negara Republik Indoesia dan status kewarganegaraannya sama seperti saya, anda dan kita semua yang jika diberikan kesempatan untuk menjadi seorang pemimpin Kepala Daerah (Gubernur, Bupati, serta Walikota) di Indonesia, maka daerah yang menjadi Kepala daerahnya adalah warga negara Indonesia yang berketurunan Tioghoa-China itu, berpotensi besar akan mengalami kemajuan Peradaban dan Kebudayaan di wilayah tersebut. Dan, di Indonesia terdapat 9 (sembilan) Kepala Daerah, baik Bupati dan Walikota warga negara Indonesia yang berketurunan Tionghoa-China. Jika saya, anda dan kita semua pernah datang berkunjung ke Negeri China, maka di sana ada sebuah nama Kota Guangzhou yang merupakan sebagai pusat perdagangan dan pelabuhan tertua di China. Pernah ada seorang Raja dari dinasti Qin, disebutkan dalam fakta sejarah, bahwa dinasti ini pernah merintis hubungan dagang dengan bangsa India. Masyarakat Negeri Tirai Bambu ini pun telah pertama kali mengenal Peradaban “uang-kertas” ketika dinasti Tang berkuasa, dan masih banyak Perdaban dan Kebudayaan yang lain di Negeri China yang bertahan hingga hari ini.

            Dewasa ini, mari kita membuka (maftuhah) mata lebar-lebar untuk kemudian kita dapat menyaksikan secara dekat melalui saluran informasi digital modern dengan menggunakan sistem online melaui channal Youtube sebagai jendela dunia. Bahwa bangsa China pada era modern ini telah kembali menampakkan taringnya sebagai salah satu negara Raksasa yang sangat kuat dalam memainkan perdagangan global. Ilmu pengetahuan dan teknologi pun pesat berkembang dan sangat berkemajuan di segala bidang di Negeri China. Bahwa, orang-orang China telah berhasil mempublikasikan hasil penelitiannya tentang Peradaban Matahari buatannya yang membuat negara Amerika Serikat “klepek-klepek” sangat khawatir dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikuasai oleh bangsa China hari ini, lebih-lebih pada sektor Peradaban alat-alat pertahanan-keamanan, seperti alat persenjataan, pesawat tempur, kapal selam, kapal perang, dan produk-produk Peradaban lainnya yang luar biasa canggihnya dan telah banyak di nikmati oleh warga dunia, termasuk saya, anda, dan kita semua.

            Mengutip pendapatnya, Pearl S. Buck dalam bukunya “The Good Earth” sangat mengakui tentang eksistensi Peradaban dan Kebudayaan Negeri China yang menyimpan sejuta khazanah. Menurutnya, bahwa masyarakat China (orang-orang China) bukan termasuk orang yang mudah berubah pada konteks sosiologis-antropologis, akan tetapi kelebihan yang dimiliki oleh orang-orang China adalah mereka sangat mampu menyesuaikan dirinya saat terjadinya momentum perubahan itu datang secara tiba-tiba di lingkungannya. Kemampuan bertahan untuk Peradaban dan Kebudayaan orang-orang China ialah karena kemampuan penduduknya membangun Peradaban dan Kebudayaan yang praktis. Ketika ada sesuatu yang tak beres, maka orang-orang China kemudian secara cepat se-cepat kilat mampu serta mereka tanggap untuk mengatasinya.

            Dengan demikian, dalam pemikiran kita rasa-rasanya bila dicermati secara objektif perihal bagaimana fakta kesejarahan tentang hebatnya Peradaban dan Kebudayaan bangsa China untuk kita memperoleh nilai-nilai reflektif yang bisa kita adopsi. Misalnya, tentang karakter daya-juang, keuletan, dan pendirian positif dari orang-orang China yang sama sekali tidak ada salahnya untuk saya, anda dan kita semua untuk ditiru. Kemajuan Negeri China dan ketahanannya tak lepas dari akar sejarah kokoh yang dibangun selama ribuan tahun. Keteguhan pada prinsip dan nilai dasar yang menyejarah ini, seperti filsafat Konfusius (keseimbangan-harmonis), juga menjadi faktor yang tak bisa diabaikan. Karena hal tersebut yang telah menjiwai dan menjadi kekuatan untuk bertahan dalam Peradaban dan Kebudayaan bangsa China hingga hari ini. Maka, di sini bahwa, anda kawan suka (like) dan/atau anda tidak suka (dis-like) kawan terhadap warga negara Indonesia yang berketurunan Tionghoa-China hari ini, yang jelasnya bahwa mereka (orang-orang China) telah banyak memberikan sumbangan terbesar bagi Peradaban dan Kebudayaan untuk Islam Indonesia.

            Maka, Tuntutlah Ilmu Pengetahuan Walaupun sampai ke Negeri China. Artinya, marilah saya, anda, dan kita semua belajar ilmu pengetahuan dengan sesama warga negara Indonesia yang berketurunan Tionghoa-China, sehingga saya, anda, dan kita semua tidak perlu pergi jauh-jauh ke Negeri China untuk menuntut ilmu pengetahuan ke sana, karena biaya atau ongkosnya terlalu mahal. Maka, marilah kita menguatkan nilai-nilai Ukhuwwah Wathaniyyah (persaudaraan se-kewarganegaraan) dan lebih-lebih pada penguatan nilai-nilai Ukhuwwah Insaniyyah (persaudaraan se-kemanusiaan) kepada saudara-saudara kita yang berketurunan Tionghoa-China untuk kemajuan Peradaban dan Kebudayaan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat kita cintai. Demikian tulisan ini, semoga bermanfaat. Wallahu ‘alam bishshawab.

One thought on “MENUNTUT ILMU KE NEGERI CHINA

Tinggalkan Balasan ke A WordPress Commenter Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *